Semenda dan Spiritualitas Dapur dalam Midnight Diner



Apa yang anda lakukan mulai pukul nol-nol hingga  7 pagi, terlelap? Pada sebuah kedai makan di daerah Shinjuku, Tokyo, orang - orang duduk menikmati hidangan makanan sajian Master, si empunya kedai. Master membuka lapak mulai pukul 12.00 tengah malam ketika orang lain telah terbuai di peraduan memulai mimpi,  di Shin'ya Shokudō (Midnight Diner)nama kedainya, perjumpaan beragam jiwa baru dimulai. 


Adalah Yarō Abe menggoreskan manga bertajuk Shin'ya Shokudō  di tahun 2006   kemudian dibesut menjadi serial televisi oleh sutradara Joji Matsuoka, dan diperankan oleh Kaoru Kobayashi sebagai Master. Episode pertama dimulai tahun 2009 dan berakhir pada episode 50 tahun 2019.


Menonton serial Midnight Diner adalah kesempatan mengenal beragam jenis makanan Jepun, yang menjadi favorit para tokoh dalam tiap episode. Bahkan penghujung tiap episode adalah pemaparan cara memasak dan penyajiannya. 


Tiap episode dibuka dengan hamparan lampu malam di jalanan Tokyo diiringi lagu Omoide milik Tsunekichi Suzuki. Pertama kali mendengar, yang spontan muncul di kepala adalah Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin, karena memang banyak kemiripan. Aransemen, bunyi-bunyian dan nuansa yang dihadirkan terdengar sejiwa. Sememikat apa Omoide? Setidaknya layak untuk tidak di-skip ketika saban episode dimulai. Ia adalah ritual penghantar kesayupan yang merdu.


Pula, menikmati serial indah ini tak perlu terburu - buru alias ber-binge watching. Meski kadang ada kesinambungan kisah beberapa episode namun bukanlah sesuatu yang perlu digesa. Meresapi pelan - pelan di tengah malam adalah pilihan waktu menonton yang dianjurkan agar keheningan yang tersaji lebih menyergap. 


Master, yang hingga episode terakhir tidak dijelaskan latar belakang dan keluarganya, berinteraksi ke tiap pelanggan, bahkan masuk dalam ranah masalah pribadi mereka. Sebisa mungkin ia membantu, memberi solusi, menautkan percakapan dan hati sesama pelanggan sehingga pada akhirnya mereka hampir mirip sebuah komunitas kecil.


Para pengunjung kedai tengah malam terdiri dari yakuza, pemilik bar gay, penari klub hiburan malam, pebisnis, filsuf, penyanyi yang tidak sukses kemudian melejit setelah berkunjung ke kedai makan tengah malam itu dan deretan panjang jenis orang terpinggirkan. Mereka berkumpul tanpa syak wasangka, prejudice. Sebagian mereka adalah orang - orang yang menjalani kehidupan yang bukan pilihannya, duduk bersama di hadapan meja berbentuk U, membentuk lingkar kekerabatan, mendedah ruang pribadi masing - masing, membuka topeng yang telah lelah dipakai sedari pagi.


Meski menawarkan menu terbatas, namun Master bersedia menyiapkan jenis makanan lain pesanan pelanggannya, sepanjang bahan tersedia, atau malah bahan dibawakan si pelanggan. 


Master akan selalu sibuk di dapur kecilnya yang terbuka  di seberang meja U, kemudian memberi makan. Ia tekun mendengar cakap - cakap mereka sembari merokok dibalik tirai pendek yang menyembunyikan wajahnya. Sesekali memberi solusi kerumitan  hidup para pengunjung namun tak akan merecoki jika tak diperlukan. Ia senyum saja jika masakannya dipuji.  Tak pula menuntut sanjungan berlebih, karena tanpa itu ia tetaplah sang 'master'. 


Sejak episode satu Midnight Diner telah bertabur simbolisme makanan. Mulai dari bentuk, ukuran, serta kisah tersembunyi disebaliknya. Selalu ada peristiwa yang menghantarkan seseorang memiliki preferensi cara memasak dan penyajian tak lazim suatu jenis makanan. Penceritaan yang kadang mengajak penonton berseru lirih, ya, aku pun begitu. 


Adakah spiritualitas dalam makanan? Peter Bolland di artikelnya, “The Sacrament of Food,” berkata, “Mungkin ruang paling sakral di rumah Anda bukanlah ruang yoga, atau altar dengan lilin, atau kursi dekat jendela tempat Anda bermeditasi dan berdoa. Mungkin ruangan paling suci di rumahmu adalah dapur". Demikianlah dentang wajan bertemu spatula di tangan Master, gemericik tumisan, tampilan hidangan, jalaran bau yang menyergap simpul syaraf para tamu Shin'ya Shokudō, memicu produksi serotonin mereka, bahkan pemirsa.


Tiap gerak Master adalah ritual penuh devosi, menghantar sajian yang  subtil, bukan profan. Olehnya orang - orang yang berkumpul antara tengah malam hingga jam tujuh pagi itu bersemenda, menarikan sumpit dalam laku presisi pada ruang gerak terbatas namun memikat. Di sanalah tiap malam dipungkas dengan perayaan kehidupan.



Baca Selengkapnya →
Bulan dan Sebentang Cinta

 Bulan bersolek menyisir rambut, bercermin sungai

dipandang takjub sang banteng, dari balik rimpun mawar

ke dalam sungai bulan mengurai

ketika malam usai dan menyingsing fajar


Gypsy Kings melantunkan bait demi bait lagu El Toro Y La Luna  dalam rentak flamenco nan mendayu namun maskulin. Dongeng seekor banteng muda perkasa yang meninggalkan kawanan saban malam demi melihat pesona rembulan lebih dekat. Kisah cinta menepuk angin pada sang candra berbaris panjang sebentang bumi. Legenda kelinci dan bulan di China dan Jepang, kisah serigala dan bulan di India dan Amerika, jaguar dan bulan di Meksiko. Sebuah senarai tebal menggulung.


Kisah kasih bulan adalah juga tentang Selene dan Endymion di Yunani, juga tentang Putri Kaguya di Jepang. Dalam legenda Kaguya hime no monogatari, sang putri adalah makhluk bulan yang dihukum turun ke bumi. Kemudian ditemukan seorang kakek pencari bambu dalam sebuah batang bambu bercahaya. Setelah dewasa Putri Kaguya menjadi gadis rupawan yang diinginkan banyak lelaki termasuk kaisar. Bak kisah putri rembulan di belahan bumi lain, sang putri kembali ke bulan. Hampir selalu kisah kasih tak sampai.


Ada lagi tentang bulan yang purnama dalam A Midsummer Night's Dream karya William Shakespeare. Tidak hanya magis, tetapi juga sebagai penggerak utama dari kisah cinta tokoh - tokoh pada pertemuan ajaib dalam hutan. Hati mereka bertukar corak, rindu-benci, suka-dendam. 


Percy Bysshe Shelley pula dalam soneta  To the Moon mencoba mencuri perhatian bulan dengan memberi simpati. Ia  menulis,

 

Apakah engkau pucat karena lelah

Mendaki surga menatap bumi,

Mengembara tanpa ditemani

Di antara bintang-bintang  nan lahir berbeda,-


Setia menjadi tempat curahan hati, banyak puisi dihantarkan ke bulan. Roderick Dhu menyampaikan curahan hatinya ke bulan saat ia merenungkan kesepian dan kepedihan hatinya  dalam Lady of the Lake karya Sir Walter Scott. Sebagaimana berton puisi ditulis berlaksa juwana patah hati tersimpan di bawah katil, laci meja, atau dasar lumpur sungai.


Bahwa gairah manusia lebih berpendar kala purnama atau fase bulan lain, belum terbukti sahih secara ilmiah. Meski demikian, beberapa kajian menunjukkan ada kaitan  antara bulan dan aktivitas seksual. Penelitian tahun 2013 menemukan bahwa jumlah kelahiran di Inggris meningkat selama fase bulan purnama, dibandingkan dengan fase bulan yang lain. Studi yang sama juga menemukan bahwa terdapat peningkatan aktivitas seksual selama fase bulan purnama, meski tidak signifikan secara statistik.


Di laut, bulan berperan dalam musim memijah ikan. Pengaruh siklus bulan pada pasang surut laut berdampak pada perilaku reproduksi ikan. Tarikan gravitasi antara bumi, bulan, dan matahari menghasilkan siklus pasang surut, mempengaruhi lingkungan air di mana ikan berkembang biak. Di air tawar beberapa spesies ikan cenderung memijah pada musim semi dan musim gugur, ketika suhu air mulai naik atau turun, dan jumlah cahaya di sekitar mereka juga berubah karena perubahan durasi hari dan malam.


Akan halnya kuasa bulan atas laut, mitologi suku Inca dengan kecerdasan yang menjulang dalam Kisah Mama Quilla sang dewi bulan dalam mitologi menutur legenda bahwa sang dewi memerintah atas kekuatan gelombang laut. Gerakan bulan mereka percaya penyebab gelombang laut. 


Bulan tak semata tentang berkasih-kasihan. Tak selalu eros. Ia juga adalah keberanian, pengorbanan. Setidaknya ketika dulu kue bulan yang di dalamnya terdapat pesan diagihkan sesama bangsa Han untuk melepas diri dari Mongolia. Purnama juga adalah pengalaman transendental, masa untuk bermeditasi dan berdoa dalam tradisi Buddhis, juga dianggap sebagai waktu ketika Buddha menyampaikan khotbah ajarannya.


Usia bulan sebagai satelit bumi telah pun 4,5 milyar tahun. Bumi mula - mula, sang proto, dibentur benda asing, memuntah serpihan yang tak hendak menjauh, malahan berkumpul jadi satu dan mengitari sang terra. Maka tak heran selalu hadir rindu kembali bersua. Seperti pertengahan maret lalu, NASA memperkenalkan pakaian antariksa terbaru, dinamai AxEMU dalam misi Artemis sang penerus Apollo.


Kembali ke lagu, ketika Bart Howard menulis Fly Me to the Moon dan dinyanyikan Felicia Sanders pertama kali di sebuah klub malam, berlomba - lomba barisan yang ingin ikut mendendangkan. Logika rasa memenangkan Frank Sinatra sebagai pembawa paling populer.


Namun tak jarang minda kita melupakan sang candra. Seperti ketika suatu malam seorang juwana berkendara roda dua di jalan cempedak kota pesisir, Dumai. Ia bersua genangan air yang jika diamati benar terlihat merayap naik  amat perlahan, memanjat hingga ke darat. Si juwana tersenyum malu. Ia terjebak air laut di lebuh raya kota.


Lelaki muda memandang rembulan yang sedang membulat indah malam itu. Daya besar nan membawa serta rob. Sang juwana, atau kita, selalu dalam laku leher tertekuk, namun bukan sebab pasrah tunduk. Lupa menengadah ke seluas semesta, di mana bulan dan semenda lain bergantungan. Padahal tiga ratus delapan puluh lima tahun lalu John Milton telah terkesiap ketika berjumpa Galileo hingga menulis dalam Paradise Lost :


This pendent world, in bigness as a star

Of smallest magnitude, close by the moon.


Ya, bulan takkan pergi jauh.






Baca Selengkapnya →
Pejabat
Kemarin, di tengah jalan aku bercakap - cakap dengan Ditha ketika membawanya pulang sekolah.

"Lihat boru, banyak polisi berjaga di jalan. Bararti ada pejabat mau datang."

"Pejabat itu apa Pa?"

"Pejabat ya orang penting. Yang memerintah. Misalnya presiden, gubernur, walikota, ya mentri."

"O, yang naikkan BBM itu ya Pa?"

Aku pun garuk-garuk kepala, eh, helm.
Baca Selengkapnya →
On Party Goers, An Pe Tong Marpestai. Bagian dua : Trio Flamingo
Hingga hari sabtu yang lalu (5/4) aku masih menghadiri satu lagi pesta bona taon. Bukan sebagai peserta, melainkan penghibur. Bersama dua lagi temanku, yang satu semargaku Simanjuntak, satu lagi bermarga Simatupang, kami bernyanyi menghibur di banyak pesta batak. Nama kelompok kami, Trio Flamingo.

Meski dengan formasi berbeda, antara kami bertiga sebenarnya telah pernah bersama dalam kelompok bernyanyi, baik trio maupun vocal grup. Namun, untuk mempertemukan formasi sekarang ini sempat tersendat-sendat. Maklumlah. Simatupang , yang selalu kusapa ‘Tulang’, sebagai penggagas trio ini awalnya ragu apakah kami Simanjuntak berdua bersedia bersama dalam satu grup nyanyi. Siapa tidak tahu kisah bau marga Simanjuntak dan dua kerbaunya, yang hingga sekarang masih diseret-seret dan dihembuskan. Aku dan Uda, Simanjuntak satu lagi di trio kami, memang lain kerbau. Dan menurut para pemuja kisah horor Simanjuntak, kami berdua tidak semestinya berdekatan, apalagi sampai bersatu membentuk satu kelompok bernyanyi atau semacamnya.

Namun niat kami tak dapat dibendung oleh kisah, yang maaf saja menurutku, lebih dekat ke tahyul. Hampir dua tahun lalu kami pun menggabungkan diri. Aku personil termuda. Tulang sudah kepala empat, demikian juga Uda. Anak-anak mereka telah pun beranjak dewasa. Ada yang bahkan telah memakai seragam polisi. Sedang putriku masih TK nol kecil. Begitupun, beda usia mampu kami jembatani. Kebetulan, dengan Tulang aku sama-sama menjadi anggota kelompok koor di gereja. Namanya Koor Amasada. Aku dan Uda, meski baru berkenalan cepat sekali akrab. Jujur saja, mereka berdua banyak mengajariku ihwal bernyanyi dengan cengkok batak. Bagaimana membunyikan suara tiga atau lima, yang menjadi bagianku dalam grup kami. Suaraku yang tipis namun lumayan melengking memang lebih cocok kesana. Satu yang hingga sekarang belum dapat kulakukan. Bernyanyi dengan suara palsu. Kata mereka ‘marskill’. Aku dulu terkagum-kagum dengan ketinggian dan padunya suara-suara trio batak. Belakangan baru kutahu bahwa banyak dari penyanyi itu yang menggunakan suara palsu. Aku tak tahu nama tehnik itu. Apakah itu falseto, entahlah. Pengalamanku hanyalah menyanyikan lagu-lagu Guns n Roses, Skid Row, Extreme, Quenn serta sejenisnya.

Pekanbaru dan Piala Yang Tak Digilir

Begitulah, ketika beberapa bulan lalu diadakan sebuah festival trio batak di kota kami, Dumai. Kami ikut serta dan juara. Awalnya kami tak bulat suara hendak mengikuti. Tulang seperti teragak-agak. Ragu. Ketika mendengar lagu wajib ia makin ragu. Lagu ini dinyanyikan keroyokan. Ada Victor Hutabarat, Rita Butarbutar dan Trio Ambisi. Bagaimana hendak mentriokannya? Begitulah ia gusar. Namun, sebagaian karena tidak ikhlas kalau hadiah sekian juta jatuh ke tangan orang lain, kami pun rajin jugalah latihan. Hasilnya mallapak.

Dilanjutkan dengan tingkat propinsi. Kami berangkat ke Pekanbaru. Hendak merebut piala Kapolda. Kami dikarantina di sebuah hotel yang karena menyandang nama ‘bintang’ – hotel ‘Bintang Anu’, semacam itulah - maka berani-beraninya memampangkan gambar tiga buah bintang di atas hotelnya. Seperti kontestan lain, kami pun kecele. Di hotel, rajin sekali kami berdoa. Hendak makan berdoa. Mau tidur berdoa. Berangkat tanding ke hotel yang benar-benar berbintang tiga, pun berdoa. Lebih gomos tentunya. Bunyi doa kami kira-kira begini, “Tuhan kami tidak minta kemenangan. Namun jika kiranya kami layak Tuhan, berikanlah kemenangan itu. Agak sombong ya sebenarnya. Kalau tidak salah, tiga kali doa seperti itu dipanjatkan Tulang. Diaminkan kami.

Di malam final aku benar-benar grogi. Dengan bahasa Batak yang dikental-kentalkan, kuusahakan membaur dengan para kontestan lain. Mereka datang dari serata Riau, namun tampak betul bukanlah seperti aku, lahir dan besar di Bumi Lancang Kuning ini. Di penyisihan siang hari, semua kontenstan kecuali dari Pekanbaru dan Dumai sudah tersingkir. Jadi kalaupun hadir di malam final, mereka yang berasal dari Pelalawan Siak dan lainnya hanyalah menonton. Meski begitu, dapat jugalah mereka bertegur sapa, bahkan sesekali bercanda dengan para pesohor di kancah musik Batak. Trio Ambisi hadir, demikian juga Trio Maduma. Andolin Sibuea yang aransemen musiknya telah menghiasi ratusan album lagu Batak, bahkan bernyanyi. Victor Hutabarat yang ramah datang membawa istrinya. Benny Panjaitan dan Rita Butarbutar menjadi juri. Ah, banyak lagi. Mereka semua ramah dan memang punya suara indah belaka. Tak terbayangkan sebelumnya aku akan pernah selarut ini dengan jenis musik yang dulu selalu kuanggap kelas tujuh belas. Malu aku ke diri sendiri. Namun tak lama. Ketika akhirnya ketua tim juri, Benny Panjaitan mengumumkan kami memperoleh tempat kedua, alamak, betapa berbungah hatiku, hati kami. Sungguh sebuah pencapaian.

Pelan-pelan terungkap bahwa hanya kamilah, finalis dari Dumai, yang merupakan trio comoton. Maksudku, bukan bagian dari suatu grup musik Batak. Para pesaing kami, memang menjadikan seni bernyanyi sebagai sandaran hidup. Mereka punya tempat latihan tetap dan alat musik serta pemain, sedangkan kami hanya menumpang latihan di gedung serbaguna yang memiliki alat musik. Hanya modal pertemanan belaka.

Bahkan di kemudian hari ada yang mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk mengadu gengsi masing-masing grup musik Batak di kota Pekanbaru. Apa iya? Ada-ada saja.

Hingar bingar malam itu tuntas sekitar pukul dua dini hari. Besok siangnya, setelah mengelilingi kota Pekanbaru, bukan hendak mau pesiar, namun karena supir yang membawa rombongan sok tahu dan akhirnya lilu, kami pun pulang.

Baik ketika berangkat, maupun pulang dari Pekanbaru, aku selalu duduk sebangku dengan Uda. Di hotel pula setempat tidur. Nir bencana. Terima kasih Tuhan, bathinku. Mudah – mudahan dibukakan mata hati saudara-saudaraku Simanjuntak lainnya.

Piala setinggi kurang lebih delapan puluh sentimeter pun kami boyonglah. Sebagai pendiri dan memang pimpinan kami, Tulang berhak membawa ke rumahnya untuk pertama kali. Katanya, “Tu jabunami ma parjolo ate lae. Ba marganti hita.” Aku dan Uda mengiyakan. Jadi, kalau nanti anak istriku hendak melihat rupa piala itu, aku harus menjemput, atau tepatnya meminjam dari rumah Tulang. Ah, kupikir tak perlulah itu. Siapa juga yang mau menenteng piala di sepeda motor, kemudian beberapa hari kemudian memulangkannya. Di kemudian hari, ketika berlatih di rumah Tulang, penglihatanku sering terbetot oleh piala yang memang dipajang di ruang di mana kami sering latihan. Aku hampir lupa, piala itu ada.

Karena Dumai bukanlah kota besar, pencapaian kami cepat tersiar. Diberitakan di koran lokal sebenarnya. Akan tetapi karena hanya memperoleh posisi kedua, foto kami yang berada baris kedua tertutup sosok kapolda, panitia dan juara satu. Dari bagian tubuhku yang terlihat hanya dahi ke atas. Dengan malu-malu harus kuterangkan juga ke handai-taulan dan teman-teman bahwa kepala yang tersembul itulah aku. Tulang dan Uda bahkan tidak kelihatan. Maklum, mereka tidak lebih tinggi dariku.


The Job.

‘Job’ manggung kami bertambah. Di natal oikumene kami tampil. Ikut juga menemani ibu walikota ketika didaulat bernyanyi di natal tersebut. “Nanti kalau ada acara kita nyanyi sama-sama lagi.”, demikian bisik ibu walikota ke kami waktu itu. Hingga sekarang belum kesampaian. Mungkin ibu walikota lupa, atau ia ingat tapi tak tahu bagaimana menghubungi kami .

Masih di minggu kedua bulan januari 2008 sudah ada punguan marga mengadakan pesta bona taon. Panggilannya pun mendadak. “Marsogot marende hita lae, di jabu ni si Hasibuan katua.”, demikian Tulang menelepon malam itu. ‘Hasibuan katua’ adalah ketua koor Amasada (koor kami), juga menjabat ketua parsahutoan Mauliate (parsahuton kami) dan sekaligus ketua marga Hasibuan.

“Waduh, suaraku lagi rusak tulang. Aku batuk..”

“Palan-palan pe tabaen. Nunga terlanjur huoloi.”

Demikianlah, dengan suara pas-pasan, bahkan sering keseleo, aku datang dan ikut bernyanyi juga besoknya. Waktu berlalu dan hampir tiap minggu kami manggung. Di pesta parsahutaon atau STM, pesta marga, ataupun kumpulan yang dibentuk karena rasa kebersamaan. Seperti punguan yang mengundang kami awal April lalu. Punguan Satahi Saroha, demikian namanya. Dibentuk atas rasa kebersamaan para penggiat lapo tuak. Baik pemilik, maupun pengunjung, se Dumai. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Ketuanya juga si “Hasibuan Katua’. Di pesta Sabtu itu, mereka menyertakan istri. Uniknya, istri boleh duduk manis. Para suamilah yang meladeni. Menyiapkan cuci tangan, nasi, lauk, sup, air minum dalam kemasan semua dilakukan para suami. Kecuali air minum dalam jirigen alias tuak, tak dihidangkan bagi para istri.

Mereka puas akan suguhan kami. Kami pula menikmati saweran mereka. Semua senang, kecuali mungkin tetangga tuan rumah yang terpaksa mendengar dentuman pengeras suara. Entahlah.

Akan halnya pesanan alias orderan atau ‘job’ manggung kami sebenarnya lumayan banyak. Namun tak sedikit yang batal, karena ketidaksesuaian harga. “Musik ni halahan (disebutkanlah nama pemilik) nasa i nunga lengkap martagading dohot suling. “, demikian biasanya pemilik hajatan yang berniat menanggap kami bersuara ketika mendengar penawaran kami. Apa boleh buat. Kami memang belum memiliki sound system sendiri. Perangkat musik dan sound system orang lainlah yang kami sewa saban manggung. Jadi sulit untuk menekan harga. Maka secara umum ‘job’ yang datang terbagi dua. ‘Real job’, yaitu orderan yang memang ‘deal’, dan ‘ blow job’, yakni pesanan manggung yang tak menjadi, lalu bersama angin, karena ketidaksesuain harga tadi.


­Parendeon

Tahun lalu, ketika berniat menjadi pengisi acara di hotel, kami telah membuat buku lagu. Tulang dan Uda memberikan teks lagu-lagu, kemudian kuketik dan kujilid dengan sampul dilaminating dan tulangan spiral, agar benar-benar awet. Kubuat rangkap tiga sehingga masing-masing kami kebagian satu. Meski bernyanyi di hotel urung, sekali lagi karena ketidaksesuain harga, buku lagu tersebut tetap dipakai. Bahkan bertambah tebal karena banyak lagu baru. Jadi bukan buku ende HKBP saja yang punya suplemen.

Untuk lagu-lagu tortor, tak melulu lagu Batak yang kami dendangkan. Masuk juga lagu –lagu seperti Volare, La Bamba, bahkan Munajat Cinta.

Di tiap penampilan, baik pesta marga maupun STM atau parsahutaon, biasanya kami akan menyanyikan beberapa lagu sebelum panortoron. Sebelum, ketika atau sesudah makan. Bernyanyi ketika orang Batak makan benar-benar tak sedap. Ada saja orang yang menyebut diri protokol menimpali dengan suara dibesarkan, entah dapat mike dari mana dia, ”Paso hamu jo, paso hami jo na marende i, adong pengumuman.” Ketika kami yang ‘kentang’-kena tanggung- akhirnya benar-benar berhenti di tengah lagu yang hampir klimaks, beginilah bunyi penguman itu :

“Tu akka ina, tinggalhon hamu solop muna i di luar. Unang panaek manang diboan tu tikkar. Saulak nari, tu akka ina, bege hamu-bege hamu...”, ini biasanya karena yang dikasih peringatan, kaum ibu, cuek dan tetap ngerumpi. “Tinggalhon solop muna di luar, unang dipanaek tu tikkar. Songon i ma. Toe, torushon hamu ma na marende i.”, katanya sambil berpaling ke kami, khususnya ke Tulang yang berada di belakang keyboard. Kami bertiga akan saling pandang, dan sulit kulukiskan di sini wajah jengkel Tulang. Biasanya ia akan melengos, pergi ke sudut-sudut, marbete-bete, kemudian balik lagi ke belakang keyboard. Banyak lagi contoh pengumuman tak kalah norak dan tak perlu yang kerap menyela penampilan kami.

Kadang aku heran juga melihat kebiasaan orang Batak dalam menggunakan mikrofon. Sulit menemukan suku lain yang punya kepercayaan diri tinggi seperti orang Batak dalam memegang dan berbicara memakai mikrofon. Di pesta adat pernikahan, paling tidak di kotaku, tampak sekali hal itu. Sering terlihat mike wireless bahkan dimasukkan ke saku jas sambil berjalan kesana-kemari jelajatan. Entah mencari dongan tubu atau borunya hendak memasuki gedung, atau mungkin mencari istri, hendak meminta sapu tangan. Bisa jadi ia takut mikenya diambil orang lain. Tapi ini sudah ngelantur. Kali lain kita bicarakan.

Baca Selengkapnya →
On Party Goers, An Pe Tong Marpestai
Tahun Baru, Pesta, Babi, Kerbau, Sapi, Musik, Poco-poco, Anak Medan. Atau : Bona taon, toktok ripe, iuran taon, manortor, hasil tortor, na somargota, na margota, parsubang, hula-hula, hela-boru-bere, anggota baru. Jangan bingung kawan. Itu tadi semua adalah lema-lema yang selalu ditarikan lidah orang Batak dalam dua tiga bulan ini. Yah, paling tidak di kotaku inilah, Dumai.

Wajib hukumnya bagi tiap punguan marga meghelat pesta bona taon atawa awal tahun. Masing-masing punya alasan kenapa itu harus dilakukan. Tiga empat tahun lalu aku masih sering mendengar bahkan terlibat diskusi tentang perlu tidaknya helat begitu diadakan. Bukankah pemborosan saja? Coba, ehm…, fulus yang dihamburkan untuk kesemua pesta itu, maksudnya dari tiap marga, dikumpulkan. Sudah terbinalah sebuah gedung baru untuk orang Batak. Sopo Godang. Ya, ya, ya, betul itu, kata yang lain. Kita memang keliwat boros. Bukan main. Kita harus berubah, kalau tidak sekarang kapan lagi, yang lain lebih bersemangat.

“Daga, holan sahali do di bagasan sataon poang, tanda na adong ma pasu-pasu i, i pe keberatan hamu. Pikkiri hamu jo antong.”, nah, yang ini pendapatnya sebaliknya pula. “Ba angka ulaon parsaoran do poang niula, tong ingkon protesan muna.”, hehehe, yang ini diucapkan dengan lakon geleng-geleng kepala. Ia bingung, lawan bicara pun mirdong. Tak nyambung.

Heran juga. Tahun ini aku hampir tak mendengar debat serupa. Yang kulihat, kalau memang tak sanggup, maksudnya tak punya duit untuk membayar toktok ripe alias sumbangan wajib, juga untuk menari atau manortor, belum lagi untuk jajan anak-anak yang minta dibelikan ini itu di gedung pesta, maka lebih baik tak datang. Jadi, ini pengamatanku, yang menghadiri pesta-pesta itu sudah siap luar dalam, jasmani (uang di dalam saku jas) dan rohani (siap mental jika yang disumbang ketika manortor ogah dikasih duit seribu, minta sepuluh ribu atau lebih dengan menjauhkan jari-jarinya ketika hendak diselipi duwit).

Pesta bona taon jamaknya diawali kebaktian. Ya bernyanyi, ya berdoa, ya mendengar kotbah. Kotbah-kotbah pada pesta bona taon adalah rangkaian kotbah yang paling tidak diacuhkan orang batak. Miris juga melihat para pewarta kabar baik itu berusaha menggugah pendengarnya untuk memulai cara hidup baru di tahun yang baru. Untuk meninggalkan kebiasan buruk dan lebih mendekatkan diri ke sang Khalik. Hei, waktu berjalan. Lihatlah bencana, lihat banjir, kelaparan. Si Polan tak bersama kita lagi tahun ini. Ucap syukurlah engkau masih bernafas, sehat dan terberkarti. Hm, baris depan pendengar lumayan serius. Baris tengah sibuk melihat jadwal partangiangan sepanjang tahun yang entah kenapa diagihkan pada awal kebaktian. Baris belakang, ngk…, keluar masuk gedung, merokok. Membunuh waktu, menunggu jeda makan dan hirup pikuk tortor.

Komisaris, makan, sup

Kebaktian usai. Layaknya tadi ditekan tombol ‘mute’, maka sekarang adalah ‘voice on’. Hendak marsipanganon.

“Hot ma hita di hundulanta be. Asa unang sarupa tu onan. Holan komisaris ma na mardalan.” Beginilah diulang-ulang oleh MC – orang batak lebih suka menamainya protokol, mungkin agar terkesan lebih menjabat – atau seruan lain yang senada. Idealnya memang, karena bukan makan ala prasmanan, ya duduk sajalah. Toh akan dilayani. Namun karena posisi duduk sedari awal tak ideal, tak berkumpul menurut pembagian wilayah atau komisarisnya, maka sibuklah para komisaris ke depan ke belakang sudut kiri sudut kanan, mencari anggotanya, membagi-bagikan jatah daging yang telah dibungkusi dalam plastik. Yang tidak sabar, telah melihat komisaris tapi merasa bahwa sang komisaris tidak melihat kehadirannya, mengambil inisiatif mendatangi. Satu memulai, yang lain ikut. Nasi dalam bakul yang diseret-seret seraya dibagikan pun dikerubungi. Begitu juga sup. Jangan sampai sup terlambat tiba. “Si Nando nami dang boi mangallang na siak.”, alasan sang ibu seraya mencedukkan ‘bokkor’nya ke dalam ember atau wadah lain berisi sup yang sebenarnya telah diletakkan jauh dari jangkauan Mak Nando dan kawan-kawannya.

Semampu para petugas – protokal, komisaris, dan para pembatunya – hal begini berusaha ditertibkan. Kalau pun tak reda juga, tetap seperti pasar, paling-paling doa hendak makan yang tertunda.

“Nunga boha, nga ris be sude? Boha di sabola siamun, alusi hamu sian pudi an, sabola hambirang, boha do, nunga ris be amang inang? Molo songon i hupasahat hami ma tu penasehat laho mambahen tangiang parmanganonta.” Akhirnya memang makan juga . Lagipula, serunya ya ketika hiruk pikuk tadi. Jika tengah makan malah hampir sunyi senyap. Hampir? Iya. Di pengeras suara terkadang terdengar juga permintaan seperti :

“Parmusik! Baen hamu ma musik na tabo i jo, asa unang kosong accara permanganan on.” Maka memang jadi mantaplah suasana makan itu. Keyboard berbunyi, suara penyanyi pun bergema. Bernyanyi seorang saja kerasnya sudah minta ampun. Tak ada treble, tak ada bas do. Heran. Sound system bagus, mahal. Tapi, bunyi yang keluar pokoknya keras. Bernyanyi pula tiga orang alis trio. Japjap ma.

(akan disambung)

Baca Selengkapnya →
Ehm.., Pesta Bona Taon Ni Punguan Amasada (2)

Biasanya, untuk memudahkan pekerjaan ini, kami menggunakan alat bantu. Semacam “burner” yang digunakan perajin rotan. Memakai bahan bakar minyak tanah, “burner” itu dengan leluasa akan melalap sisa-sisa rambut babi (untuk Amasada, sebenarnya lebih sering panangga alias sigagat solop alias anjing), karena ia dengan mudah digenggam dan apinya ditembakkan kesana-kemari. Mungkin, karena ketika sekitar sebulan lalu ketika terakhir kami pakai, alat bantu tersebut berulah, sulit menyala dan ketika akhirnya hidup, apinya merebak kemana-mana, maka kami pun tak memakai alat pinjaman tersebut. Pinjam? Ya, kami memang meminjamnya dari seorang pemilik lapo langganan punguan Amasada. Kalaulah bukan kami –biasanya diwakili sekben- yang meminjam, belum tentu Situmeang –pemilik lapo itu- sudi meminjamkan. Kaitannya memang banyak.

Ketua punguan Amasada adalah sekaligus ketua parsahutaon atau STM (serikat tolong menolong) “Mauliate”, dimana seperempat dari anggota punguan Koor Amasada bermukim. Nah, lapo bernama “Rap Mandai” itu pun terletak di parsahutaon Mauliate. >Artinya, ketua punguan Koor Amasada adalah ketua bagi pemilik lapo Rap Mandai. Jadi kalau sudah ketua yang minjam, susah jugalah menolak. Apalagi sang sekben punguan Amasada yang sering ditugasi meminjam adalah juga bendahara parsahutaon Mauliate.

Membakar rambut babi diatas tungku berbahan bakar kayu lumayan repot juga. Babi harus dibolak-balik sedemikian rupa agar semua rambut di tiap lekuk tubuh babi itu sirna. Tahunya rambut sudah tak ada bagaimana? Ya tentu harus diraba. Jika belum licin, bakar lagi. Dibakar terlalu lama akibatnya kulit babi menghitam. Kalau sudah begini, haruslah dikikis.

Setelah yakin semua rambut habis terbakar, babi malang itu pun diangkat. Seorang jagal sudah siap sedia memotong-motong menjadi ukuran lebih kecil, untuk kemudian dicuci dan akhirnya direbus dalam kuali besar. Sebelumnya, lazim terjadi tanya jawab begini :

“Boha do bahenon on? Baenon da margoar manang holan haliang na do?”, akan bertanya sang jagal.

“Ba pature ma disi. Sai hera na sahali on dope hita marulaon panukkun mi.”, menimpali yang lain, biasanya ketua punguan.

“Daong da, betak boha do asing sahali on.” Ya, manalah tahu kali ini lain pula.

“Na biasa i ma baen. Haliang dohot ihur-ihur na sajo pe.”

Haliang adalah lingkar leher. Bentuknya adalah seperti donat raksasa, namun lebih pipih. Ihur-ihur pula adalah bagian pantat. Panjang bagian ihur-ihur biasanya diukur berdasar panjang ekor. Ekor ditarik kedepan. Bagian yang disentuh ujung ekor adalah batas untuk membentuk ihur-ihur. Sisi kiri dan kanan akan dipotong seimbang, masing masing membentuk sudut sekitar 45 derajat. Jika sang jagal terlalu asyik merapikan bentuk ihur-ihur, biasanya akan ada yang mengomentari.

“Toe ma, annon pe muse padenggan i dung di robus.” Komentar ini wajar, karena bentuk daging setelah direbus akan berubah. Jadi akan lebih baik memberi ‘final touch’ setelah direbus. Melihat ihur-ihur biasanya aku akan terbayang belangkas. Bedanya, yang ini montok.

Sembari menunggu daging yang direbus masak untuk kemudian dicincang, para parhobas disibukkan dengan kopi dan teh masing-masing. Percakapan yang selalu diiringi gelak tawa pun terjadi.

Di sudut lain, beberapa temanku asyik pula dengan panggangan. Mereka memanggang bagian dada. Katanya, bagian itulah yang paling sesuai, paling sodap jika dipanggang.

Waktu berlalu, daging usai direbus, dicincang pun sudah. Hasil panggangan pun telah dicicipi. Ramuan sambal panggang sajian teman-temanku itu sebenarnya biasa saja. Bawang merah dan putih ada, cabai merah, asam, garam. Namun, kalau sudah dilengkapi andaliman (hehehe, membayangkannya saja sekarang liurku muncul), rasanya pasti akan mengguncang dunia.

Ketika memasak daging hendak di mulai, ada sedikit kendala. Ternyata sendok – bukan sembarang sendok, sendok raksasa pendamping kuali raksasa – tidak ada. Entah tercecer di mana, tak seorang yang tahu. Aku pun berlari kecil ke rumah, menebas dua batang pelepah atau batang daun kelapa, membersihkannya, sret-sret, dan akhirnya dengan menggunakan parang membentuk menjadi sendok. Dua buah sendok besar.

Mengaduk daging dan bumbu di kuali aku masih ikut. Namun kepada teman-teman segera aku permisi, hendak membawa Pho, anak lelakiku yang berumur setahun tiga bulan ke rumah sakit. Berobat. Sejak sehari sebelumnya Pho memang mencret. Namun tidak terlalu kerap dan masih dalam jumlah sedikit. Ketika sejenak pulang ke rumah membentuk sendok tadi, istriku mengajak agar kami bawa saja Pho ke rumah sakit. Jangan sampai kecolongan. Aku pun sebenarnya berpendapat sama.

**

Acara pesta bona taon itu berlalu biasa saja. Beberapa tahun lalu kami lebih antusias. Hampir semua anggota bergantian memberi ucap salam selamat tahun baru dan menghamburkan unek-uneknya. Tahun ini sepi. Organ tunggal pun tak ada. Dulu sempat ada. Kami meminjam organ gereja, Technic KN 2400 yang beru dibeli, dan bersuka ria berdendang hingga hari gelap. Tahun ini tetap juga bernyanyi-nyanyi, namun hanya ditemani gitar. Itu pun tersendat-sendat. Karena sang gitaris harus merehatkan jari-jarinya. “Nga haccit jari-jarikku. Ala na so biasa i be.”, katanya beralasan. Maka kami yang telah ‘kentang’, kena tanggung, harus menahan selera. Menunggu jari-jarinya pulih dan berharap ia segera sudi memetik gitar lagi. Kalau tak sabar, mainkan sendirilah gitarnya, dan itulah yang kulakukan. Campuran sup babi, bir dan tuak betul-betul membuat kami kena. Manginona, kata kawanku. Lagu harus ditarik. Diselingi umpama- umpama. Umpama? Ya, umpama batak. Temanku si tuan rumah kalau sudah ‘terbang’ punya hobi unik. Menciptakan umpama. “Immatutu, nitta attong.”, begitu pintanya jika umpama sudah tercipta dan dibunyikan di hadapan khalayak. O tahe...

Baca Selengkapnya →
Ehm.., Pesta Bona Taon Ni Punguan Amasada

Sejak awal Desember tahun lalu, acara ini telah dirancang. Membuhul hari, menentukan lokasi, siapa saja yang diundang, dan gerangan siapa pendeta yang akan berkotbah. Kalaupun kemudian tuan rumah berganti, dan yang berkotbah pun bukan pendeta – karena terlambat menghubungi – namun sintua, tak apalah. Tak ada Pesta Bona Taon yang urung.

Bagi orang Batak Kristen, Pesta Bona Taon adalah hal teramat jamak. Utamanya pada punguan/kumpulan marga. Bagi kumpulan koor mungkin tidak semua melaksanakannya.Namun bagi kumpulan koor kami, Koor Amasada, pesta bona taon adalah keharusan.

Pada kesempatan inilah, yang juga dihadiri oleh para istri dan anak, anggota Koor Amasada saling mengucapakan selamat tahun baru. Baku minta maaf atas kemalasan menghadiri jadwal latihan koor (marguru), atas perkataan yang terlanjur bercucuran, juga memberi saran – saran guna kemajuan kumpulan koor kami. Lazimnya, setelah mengakui kemalasannya, kami akan saling berjanji mulai saat itu menjadi rajin. Berikrarlah, tanpa diminta. Seperti biasa, minggu kan berganti bulan, janji pun basi, kami malas lagi.

Perihal ucap kata sumbang yang terlanjur meluncur, memang kerap di punguan koor Amasada. Beberapa teman biasanya lebih dulu menyambangi lapo tuak sebelum menjejak kaki ke tempat latihan koor. Bisa ditebak. Ketika latihan, besar suara tak mampu ditahan. Pilihan kata-kata ketika jeda pun lebih berani. Jika ada yang terkena ‘semprotan’ biasanya hanya bisa cengengesan, seraya berusaha membelokkan arah percakapan, atau berganti teman bicara. Sebenarnya bukan hanya tersebab ke lapo. Hari latihan yakni sabtu yang selalu diisi pesta-pesta batak pun menjadi punca. Bukankah di helat-helat batak ini pun mereka, eh, kami minum tuak juga. Pulang dari sana, kami pun ‘melayang’lah sedikit. Sipata, ke tempat latihan koor bahkan belum bersalin pakaian. Masih mengenakan baju pesta. Tahu kan baju pesta kebanyakan pria batak? Ya pakai batiklah.

Kami telah menyepakati sebenarnya, pengaturan waktu latihan. Tertulis dimulai pukul 19.30. Kenyataan selalu dimulai pukul delapan lewat ‘sedikit’. Sedikit bisa berarti seperempat bahkan setengah jam. “Tapaente ma satokkin nari. Ai sona adong dope donganhu soara dua.”, alasan serupa inilah yang kerap memundurkan jadwal latihan. “Dang lengkap dope formasi”, adalah kalimat induknya.

Apa? Geram? Hehehe, awalnya aku pun begitu. Kapan mau maju, iya kan. Dengan sok tegas pernah kuusulkan agar anggota yang tiga kali berturut-turut tidak menghadiri latihan, tanpa pemberitahuan tentunya, lebih baik diberhentikan. Aku lupa, entah kenapa usul yang waktu itu diterima tanpa perlawanan, akhirnya tak berlaku. Tak laku.

Kembali ke judul, Pesta Bona Taon Amasada kali ini diadakan di rumah tetanggaku. Jadi, tak boleh terlambat hadir marhobas. Tak ada alasan. Begitupun, janji marhobas dimulai pukul lima pagi, aku berangkat dari rumah sejam sesudahnya. Masih juga aku hadir lebih awal dari semua teman, kecuali sang sekben (sekretaris bendahara). Bersama seorang anak anggota punguan Amasada yang menjadi pemasok pinahan lobu, ia sibuk di hadapan tungku yang menyala-nyala, memegangi kaki-kaki babi yang akan kami masak menjadi lauk. Membiarkan kulit babi itu diterpa api, agar hanguslah sisa-sisa rambut atau bulu babi.


(tubikontiniu atawa marudut dope...)


Baca Selengkapnya →